Eko Pardede : Tanpa Pabrik Pakan, Tidak mungkin KJA dialihkan ke Kolam Darat

Eko Pardede : Tanpa Pabrik Pakan, Tidak mungkin KJA dialihkan ke Kolam Darat


Hal ini disampaikan oleh Eko Pardede dalam acara pelatihan Pengembangan Ekonomi Rakyat Petani Ikan Kolam Darat sebagai pengganti Kolam Jaring Apung di Danau Toba yang diselenggarakan oleh IT-DEL dan Group Tani De’Ke

Dalam acara tersebut, Eko Pardede sebagai Penasihat perhimpunan Hutanta Cerdas Cermat (HCC), memperkenalkan HCC yang merupakan kolaborasi pemuda produktif di Toba, menjadi inkubator ide agar dapat diimplementasikan dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan menguntungkan secara ekonomi/bisnis.

De’Ke adalah salah satu program inkubasi HCC,  group tani yang didirikan dan dikelola oleh Doan Pangaribuan, Arsitek asal Laguboti yang kembali ke kampung untuk mengujicoba langsung sistem perikanan darat yang memang memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Setelah selama 6 bulan berjalan telah berhasil menemukan berbagai masalah, dan solusinya, termasuk bagaimana Standard Operational Prosedur yang tepat dalam pertanian ikan sehari-hari.

Banyak Petani Ikan sudah mencoba membuat kolam ikan di darat, di kolam tanah atau beton. Tetapi pada akhirnya banyak yang tidak berhasil, atau tidak optimal, ujar Doan Pangaribuan dalam pelatihannya. Masalah yang dihadapi adalah biaya produksi yang tidak sebanding dengan harga jual ke pasar ataupun tengkulak. Harga produksi lele misalnya, dengan kondisi pengelolaan sudah sangat efisien dan efektif, adalah sebesar Rp.13.000/kg selama 3 bulan, sementara harga jualnya ke tengkulak adalah 15.000/kg. Penjualan retail ke pasar atau pembeli langsung tidak konsisten dalam jumlah besar. Margin ini masih terlalu kecil dibanding modal dan upaya yang dikeluarkan petani, belum ditambah resiko kematian ikan, kenaikan harga pakan, atau penurunan harga jual.

Petani rata-rata sudah merasa mengelola pertanian lele ini tidak sulit, sudah memahami, padahal sebenarnya jika SOP nya tidak sesuai, maka biaya produksinya akan membengkak, dan bisa melebihi harga jual di pasar. Ketika sudah mengalami hal ini, petani menjadi frustasi dan berhenti, pungkas Doan Pangaribuan dalam uraiannya.

Dalam kesempatan yang sama Indra Tambunan, Ph.D, ketua Tim IT-DEL dalam Program Pengabdian Masyarakat ini menyampaikan bahwa sistem kerja yang dijalankan De’Ke sangat sesuai dengan program IT-DEL untuk dapat membantu masyarakat meningkatkan efisiensi dan efektifitas produksi dengan menggunakan teknologi IOT. Agar kondisi air dapat dikendalikan,  termasuk otomatisasinya. Saat ini program adalah memberikan bantuan pakan dan bibit, agar menjadi prototype sistem perikanan darat yang memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi, dan menjadi solusi saat penututupan Kolam Jaring Apung (KJA) diberlakukan kelak.

Lebih lanjut Eko Pardede menyampaikan, setelah mempelajari data dari De’Ke dan masukan dari petani, bisa disimpulkan bahwa selama margin produksi masih sangat kecil, upaya perikanan darat masih akan sangat sulit diimplementasikan secara luas akibat biaya produksi yang tinggi, salah satu cara mengatasinya adalah dengan membuat pabrik pakan mandiri di Toba, karena bahan produksi pakan ini ada semuanya di Toba, sehingga dengan menggunakan teknologi tepat guna dan bekerjasama dengan IT-DEL, maka saya sangat yakin pabrik pakan ini bisa kita wujudkan segera, pungkasnya.

Share this Post:

Related Posts: