Memunculkan Kembali Semangat Kebudayaan Melalui Musik

February 21 2016

 Ada fenomena yang menarik ketika di tahun 2000an hingga saat ini. Banyak bermunculan musisi-musisi muda yang mengekplorasi karyanya dengan sentuhan kebudayaan tradisi atau etnik asal daerah mereka. Bahkan ada juga yang menyatukan berbagai unsur musik budaya etnik dari berbagai daerah. Berikut ini Hutanta akan membahas beberapa musisi berbakat Indonesia tersbut. Barangkali masih banyak Sahabat Hutanta yang belum mengetahui keberadaan mereka dengan berbagai karyanya yang sudah mendunia.

1.Kunokini

KunoKini adalah sebuah grup perkusi eksperimental yang terbentuk di Jakarta pada tahun 2003. Mengawali karirnya dengan terlibat sebagai pengiring tari untuk Indonesia dalam Festival Folklore di Wismar, Jerman. KunoKini terlahir sebagai sebuah bentuk spontanitas akan antusiasme sekaligus alternatif kebosanan terhadap musik yang semakin hari terdengar semakin seragam, yang pada akhirnya diteruskan hingga saat ini dengan memberikan sebuah warna yang berbeda. Dalam berkarya mereka menyatukan berbagai unsur musik etnik dari berbagai daerah di Indonesia dengan alat musik seperti Rebana betawi, rebana biang, gendang jawa, ketimpring, suling, kankanung (Kalimantan), kerang bia (Papua). Bahkan diperkaya juga dengan alat musik etnik mancanegara seperti jimbae (Afrika), tong drum (China), didgeridoo (Australia), dan beberapa shaker. Kunokini saat ini hanya menyisakan Bismo dan Bebi yang pada awalnya beranggotakan 7 orang, dan dalam setiap pertunjukan ada beberapa tambahan pemain yang akan membantu.

http://kunokini.com/

2. Senyawa

Senyawa adalah sebuah kelompok musik etnis kontemporer asal Yogyakarta yang diciptakan oleh 2 pemuda dari latar belakang musik yang berbeda. Rully berasal dari skena musik rock eksperimental, dan Wukir telah mengabdikan dirinya pada musik tradisional. Wukir membuat alat musiknya sendiri yang bernama Bambuwukir dan Serunai (seruling) semua dengan bahan bambu. Lirik mereka banyak memakai bahasa Jawa dan beberapa Sulawesi, tetapi ada juga yang memakai bahasa Indonesia. Mereka sudah melakukan tur ke berbagai tempat di dunia, Asia hingga Eropa. Bahkan mereka sudah berkolaborasi dengan musisi dari berbagai negara seperti Lucas Abela, Yasuke Akai, Jon Sass, Damo Suzuki, Jerome Cooper, Keiji Haino, Melt Banana, Tatsuya Yoshida, Charles Cohen, David Shea dan Kazu Ushihashi.

http://senyawa.tumblr.com/

3. Semakbelukar

Sangat jarang bukan berarti tidak ada, dengan kalimat pendek itulah Semakbelukar bisa digambarkan. Sebuah entitas musik folk etnik asal Sriwijaya yang membawa kembali musik Melayu ke masa kini. Menyatukan mandolin, akordeon, gong mini, jimbana, dan balutan vokal David Hersya yang mendayu-dayu membawakan lirik yang padat rima dan makna, sangat khas. Selain David Hersya (vokal dan mandolin) kelompok musik ini berisikan Ricky Zulman (akordeon), Mahesa Agung (gong mini), Angger Nugroho (jimbana), serta Ariansyah Long (gendang). Sayangnya mereka tidak bertahan lama karena di tahun 2013 mereka menggelar pentas terakhirnya di Kineruku, Bandung. Semakbelukar menutup pertunjukan dengan menghancurkan alat musik mereka masing-masing yang merupakan simbol bahwa mereka sudah selesai dan tidak akan reuni lagi. Sungguh grup musik yang begitu unik karena mereka memutuskan bubar ketika mulai menuai perhatian penikmat musik. Hingga kini masih banyak penggemarnya yang menunggu hingga memohon penampilan reuni mereka.

Ada fenomena yang menarik ketika di tahun 2000an hingga saat ini. Banyak bermunculan musisi-musisi muda yang mengekplorasi karyanya dengan sentuhan kebudayaan tradisi atau etnik asal daerah mereka. Bahkan ada juga yang menyatukan berbagai unsur musik budaya etnik dari berbagai daerah. Berikut ini Hutanta akan membahas beberapa musisi berbakat Indonesia tersbut. Barangkali masih banyak Sahabat Hutanta yang belum mengetahui keberadaan mereka dengan berbagai karyanya yang sudah mendunia.

Share this post
Oleh: Puput

Karya Lain