Kebudayaan Batak dengan Sentuhan Mode Masa Kini

February 19 2016

Batik sebagai warisan kebudayaan nusantara sudah diakui dengan penetapan UNESCO pada 28 September 2009 dan dikukuhkan 2 Oktober 2009 di Perancis. Berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke menyumbangkan masing-masing ciri khas motif batik yang membuat keragaman khasanah warna budaya Indonesia begitu kaya. Sumatera Utara termasuk daerah yang memiliki cerita menarik tersendiri dalam hal sejarah perkembangan batiknya. Walaupun bukan budaya asli Batak namun batik motif Batak sudah mulai dikembangkan di Medan beberapa tahun silam. Medan sebagai salah satu kota dengan tingkat heterogenitas tinggi perlahan mulai muncul para pembatik etnik dengan teknik pembuatan secara tradisional yang nyaris sama diterapkan metode pengerjaannya di berbagai daerah terutama berbagai daerah di Jawa.

Batik Batak terinspirasi dengan mengambil motif dari setiap etnis yang ada di Sumatera Utara. Motif batik Batak yang banyak terdapat di Medan disesuaikan dengan enam etnis yang ada yaitu, Mandailing, Tapanuli Utara (Toba), Simalungun, Karo, Pakpak Dairi, dan Tapanuli Tengah. Beberapa batik Batak juga memiliki ciri khas sendiri dengan memadukan motif ulos. Selain itu motif Melayu seperti Pucuk Rebung ,  Semut Beriring, dan Itik Pulang Petang juga banyak mempengaruhi motif batik Batak sebagai variasi.

Batik Batak tidak hanya berkembang di Medan, seorang pengusaha muda di Bandung bernama Trisna Pardede juga turut berkontribusi membuat sebuah brand batik Batak yang mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri bernama Batikta. Batikta berawal dari pengembangan motif-motif Tapanuli, banyak memadukan simbol-simbol filosofis seperti Gorga, Ulos Sadum, Singa-Singa, dan Bintang Maratur. Kekhasan Batikta adalah kekuatan cerita-cerita yang diangkat dibalik motif-motif batiknya. Cerita itu sengaja diangkat sebagai bentuk perwujudan rasa cinta dan bangga terhadap artefak kebudayaan Batak agar jejak sejarah dan antropologisnya tetap diingat dan bisa dipelajari dengan lebih mudah, sehingga terus bisa dilestarikan dan bahkan dikembangkan.

Dalam mengembangkan Batikta, Trisna Pardede tidak serta merta berjuang seorang diri, ia dibantu oleh Lorestoni Pardede yang merupakan adik kandungnya dan Eko Pardede yang merupakan kakak tertua. Bahkan kini orang tua mereka dan semua keluarga turut membantu melebarkan sayap distribusi Batikta yang sebelumnya hanya di Bandung dan Jakarta dengan membuka sebuah galeri batik serta pusat oleh-oleh khas Tapanuli di Balige bernama Rumah Batikta Balige. Bahkan kini Rumah Batikta Balige juga bekerja sama dengan galeri lainnya yang sebelumnya lebih banyak memajang karya-karya foto bernama Toba Art untuk mendistribusikan produk Batikta dan produk khas Batak lainnya seperti kaos, lukisan, buku, dan berbagai cinderamata.

Batikta terus mengembangkan diri dan berinovasi baik melalui pengembangan motif, ragam model dan pilihan bahan serta pengembangan ke jenis-jenis produk lainnya tidak hanya pakaian antara lain syal, selendang, sendal batik dan tas batik. Batikta berkomitmen akan bertahan dengan produk batik Bataknya untuk turut terus menjaga dan melestarikan jejak budaybatiktaa Batak dengan sentuhan fesyen masa kini tanpa meninggalkan akar jati dirinya.

 

Batika bisa didapatkan di:

1. Rumah Batikta Bandung, Jl Cimuncang No. 50, Pasirlayung, Bandung 40125

    Telp: 022 7205132

2. Rumah Batikta Balige, Jl. Pematang Siantar Km. 2 Tampubolon, Sumut

   Telp: 0632 21607

3. Toba Art, Jl. Tarutung No. 100, Balige, Sumut

    Telp: 0632 322717

4. Catwalk Fashion Gallery, Mall Kelapang Gading 5, Jl, Boulevard Kelapa Gading , Jakut 14240

Batik sebagai warisan kebudayaan nusantara sudah diakui dengan penetapan UNESCO pada 28 September 2009 dan dikukuhkan 2 Oktober 2009 di Perancis. Berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke menyumbangkan masing-masing ciri khas motif batik yang membuat keragaman khasanah warna budaya Indonesia begitu kaya. Sekelompok anak muda yang merupakan satu keluarga mengembangkan batik Batak dengan sentuhan mode masa kini. Simak kisahnya berikut..

Share this post
Oleh: Maria

Karya Lain