Sepasang Sandal Jepit

February 23 / 2016

Pagi kembali mengundang embun di ujung-ujung daun dan cericit burung pada ranting-ranting pepohonan. Udara masih beraroma khas tanah perkebunan kopi dan cahaya menelisik di antara lembar dedaunan. Pada sebuah gubuk kecil di tengah perkebunan kopi, Aidil, pemuda desa Air Kenanga duduk bersila di depan pintu dengan secangkir kopi di sampingnya. Pagi ini, ia memilih sendiri di tengah perkebunan milik ayahnya. Menikmati waktu subuh dan pagi di tengah alam terbuka yang jauh dari riuh manusia. Pagi masih dingin. Aidil menyeruput kopinya. Matanya menatap buah-buah kopi yang mulai memerah. Sekarang sedang musim panen. Kopi-kopi yang memerah itu akan dipetik, dijemur, kemudian diolah menjadi serbuk-serbuk hitam yang mempunyai cita rasa khas. Kopi ini, ia belum pernah merasakan cita rasa yang sama di beberapa daerah yang pernah ia kunjungi. Kopi ini, kopi nomor satu.

Jenis : Tulisan Topik : -, -, -
Share this post
Tentang Nurul Badriah

Hutanta